Jangan Menghakimi


Ketika itu ada seorang kiyai – sebut saja namanya Pakde - yang akan mengisi sebuah Tabligh Kematian di sebuah lingkungan masjid, sebut saja Masjid Taqwa. Karena satu dan lain hal Buku Yasin yang biasanya tersedia kurang jumlahnya karena jumlah jamaah lebih banyak dari perkiraan. Maka Pak Kiyai berinisiatif meminjam Buku Yasin yang ada di masjid, karena memang di masjid tersebut menyediakan Buku Yasin untuk berbagai keperluan.

Bertemulah Pak Kiyai dengan seorang pemuda yang ada di masjid.

“Assalamu’alaikum Mas, mau pinjam Buku Yasin ada?” sapa Pak Kiyai.
“Alaikumsalam…buat apa Pak?” si Pemuda menimpali
“Ya buat dibaca sama jamaah di rumah Bapak Fulan yang sedang ngadain Tabligh Kematian”
“Al Qur’an saja, nggak boleh pake yasin-yasin gitu”
“Kenapa…?”
“Bid’ah Pak!”

Singkat cerita, obrolan tadi menyebar juga dan sampai ke telinga ane melalui liasn Pak Kiyai. Rupanya si Pemuda tidak tau sedang berhadapan dengan siapa. Ya, karena memang tidak kenal. Akhirnya ane jelasin sedikit bahwa Masjid Taqwa sudah beberapa lama memang intesif diisi dengan kajian oleh ustadz-ustadz yang lebih fokus ‘mengurusi’ berbagai macam bid’ah yang ada di masyarakat.

“Ya, saya paham. Tetapi seharusnya dalam menyampaikan dakwah – apapun itu – janganlah langsung menghakimi seperti itu. Kalau terhadap saya sih nggak papa, coba kalau ketemu sama-sama yang darah muda dengan pemahaman yang berbeda…bisa berabe” kata Pak Kiyai

** Poin yang ingin ane sampaikan adalah ketika kita berhadapan dengan sesuatu yang tidak sepaham dengan pemahaman keIslaman kita, sampaikanlah dengan benar walau pahit. Tetapi harus dengan cara-cara yang bijaksana tanpa mengurangi apa yang ingin kita sampaikan.

** Lihat juga siapa yang kita ajak bicara, minimal bertanyalah dulu tentang informasi umum mengenai siapa yang kita ajak bicara.

Dari kisah nyata
Oleh: AbuAzka

catatan ini juga ane post di group fb

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Jangan Menghakimi"

Posting Komentar

Silakan layangkan kritik,saran, cendol de el el