Harta Haram, Rugi Banget!

Nyaris setiap hari di media kita disodori berita seputar sepak terjang korupsi pejabat, gratifikasi, kolusi proyek, manipulasitender, suap menyuap, penipuan, perampokan, penjambretan, pencurian, pelacuran, perjudian, peredaran miras dan sebagainya yang muaranya berujung pada satu hal: mendapatkan HARTA. Dalam hal ini, semua orang sepakat bahwa perbuatan-perbuatansemacam itu adalah merugikan pihak lain dan terkategori maksiyat, berdosa, hukumnya jelas-jelas haram dan oleh karena itu pelakunya layak untuk dihukum.



Disisi lain, ada sebagian perbuatan yang juga bermuara pada perolehan harta namun pandangan umum masyarakat menganggap perbuatan tersebut biasa-biasa saja, boleh-boleh saja, bukan perbuatan maksiyat dan oleh karena itu dianggap tidak berdosa. Transaksi seperti leasing, asuransi, koperasi, MLM, deposito, obligasi, kartu kredit, bursa saham, forex, money game, kebun emas, dana talangan haji hingga beragam pinjaman kredit ribawi (KPR, KKB, KUT, KUR, KCR, KTA) hanya karena dianggap seolah-olah memberikan manfaat dan seolah-olah ‘tidak merugikan’ pihak lain lantas disimpulkan bukan merupakan perbuatan maksiyat, padahal beragam transaksi tersebut sesungguhnya sama-sama menyalahi syariah Islam dan oleh karena itu hukumnya juga haram.
“Sungguh akan datang kepada manusia masa dimana seseorang tidak lagipeduli dengan cara apa ia mengambil harta, apakah cara itu halal ataukahharam.” [HR Bukhari]

Berikutnya, bagi yang merasa tidak melakukan transaksi seperti di atas, jangan pula merasa tenang-tenang saja. Karena sesungguhnya, di zaman yang didominasi sistem kapitalisme seperti saat ini, peluang melakukan keharaman bisa muncul setiap saat, baik yang langsung dilakukan oleh pelaku maksiyat secara langsung seperti kasus-kasus di atas, maupun perbuatan yang hukum asalnya boleh tapi menjadi bermasalah gara-gara perbuatan tersebut menghantarkan pihak lain kepada kemaksiyatan.

Untuk memperjelas, coba jawablah pertanyaan-pertanyaan seputar pekerjaan berikut ini :
  • Apa hukumnya seorang penjahit yang mendapat order menjahit pakaian seragam baju lengan pendek siswi sekolah menengah atas ?
  • Apa hukumnya seorang tukang ojeg yang diminta penumpang untuk mengantarkan seorang laki-laki hidung belang ke lokalisasi pelacuran ?
  • Apa hukumnya marketing dealer kendaraan yang membantu calon konsumennya yang hendak membeli kendaraan melalui lembaga leasing ?
  • Apa hukumnya seorang developer perumahan yang membantu memproses pengajuan KPR calon konsumennya melalui bank ribawi ?
  • Apa hukumnya seorang pedagang pakaian yang menjual kaos lengan pendek kepada seorang perempuan muda yang tidak menutup aurat ?
  • Apa hukumnya seorang kasir minimarket yang menjaga toko dan melayani calon pembeli yang membeli minuman keras beralkohol ?
 Nah, kira-kira apa jawabnya, boleh atau tidak ?
Tak heran dalam permasalahan harta, Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya tiap-tiap umat memiliki cobaan sendiri-sendiri, dan cobaan bagi umatku adalah persoalan harta.” [HRTirmidzi]

Perlakuan Terhadap Harta Haram


Setidaknya ada empat pilihan sikap bagi seseorang yang terlanjur memperoleh harta dengan cara yang haram, sebagai berikut :

1. Menyedekahkannya

Sebagian orang menyangka ketika harta yang diperoleh dengan cara yang haram dia sedekahkan atau dikeluarkan zakatnya, lantas menjadi bersih. Tentu saja tidak demikian, karena Rasulullah saw telah bersabda,
“Barang siapa memperoleh harta dari yang haram lalu dia menyedekahkannya, maka tidak ada pahala baginya dan bahkan mendapat dosa.” [HR Ibn Hibban]

2.  Menghanguskannya

Demikian juga ketika ada yang beranggapan bahwa tidak apa-apa kalau harta yang diperoleh dengan cara haram tersebut dibuang, dihanguskan, dikubur, atau dihilangkan, maka Rasulullah saw telah memperingatkan dalam sabdanya,
“Sesungguhnya Allah membenci tiga perkara bagi kalian, (salah satunya adalah) menyia-nyiakan harta.” [Mutafaq ‘alaih]

3.  Mengembangkannya

Ada pilihan yang lebih berbahaya, ketika harta yang diperoleh dengan cara haram tersebut dipertahankan, dikembangkan, diinvestasikan, dijadikan modal usaha dan sebagainya, maka semakin bertambah banyak harta tersebut justru semakin berbahaya bagi pemiliknya. Rasulullah saw telah bersabda,

“Janganlah membuatmu takjub, seseorang yang memperoleh harta dari cara haram, jika dia infaqkan atau sedekahkan tidak diterima, jika dipertahankan maka tidak diberkahi..” [HR Ath-Thabrani danAl Baihaqi]

4.  Membiarkannya

Adapula sebagian orang yang akhirnya memilih cuek, acuh tak acuh, tidak peduli, mendiamkan, membiarkan bahkan memikirkannya pun enggan terhadap hartanya yang terlanjurdia peroleh dengan cara haram. Padahal sikap seperti ini justru mencelakakan dia. Rasulullah saw bersabda:

“… Dan jika ia mati sementara harta (yang diperoleh dengan cara haram)itu masih ada, maka itu akan jadi bekal dia ke neraka.” [HR Ath-Thabranidan Al Baihaqi]
“Orang yang paling dirundung penyesalan di hari kiamat adalah orang yang memperoleh harta dari sumber yang tidak halal lalu menyebabkannya masuk neraka.” [HR Bukhari] 

Lantas Bagaimana?


Ternyata, empat pilihan perlakuan terhadap harta haram, keempat-empatnya juga berkonsekuensi haram. Tentu saja hal ini sesuatu yang wajar, coba kalau ada solusi yang halal terhadap harta yang diperoleh dari cara haram, bisa jadi orang makin menjadi-jadi berbuat kemaksiyatan dalam memperoleh harta dengan cara haram. Sehingga menjadi penting bagi kita terutama pengusaha muslim untuk merenungkan kembali peringatan Rasulullah saw terkait dengan harta.

“Mencariyang halal adalah wajib hukumnya atas setiap muslim.” [HR Thabrani]
“Akan datang pada manusia suatu zaman, ketika seseorang harus memilih antara kelemahan dan kemaksiatan. Maka barang siapa menjumpai zaman itu, hendaklah diamemilih kelemahan daripada kemaksiatan.” [HR Al Hakim]

"Janganlah menganggap rezki kalian lambat turun. Sesungguhnya, tidak ada seorang pun meninggalkan dunia ini, melainkan setelah sempurna rezkinya. Carilah rezki dengan cara yang baik (dengan) mengambil yang halal dan meninggalkan perkara yang haram."[HR Ibnu Hibban, Al Hakim, Al Baihaqi, dan Abu Nu'aim]

Sedangkan hal praktis yang saat ini memungkinkan untuk bisa dilakukan terhadap harta yang diperoleh dari cara haram (walaupun tetap saja berdosa) adalah:

(1)   Jika harta tersebut diperoleh dengan merugikanpihak lain (misal dari mencuri, menipu, merampok, memeras, meminta suap, mengambil kelebihan uang dari pinjaman dan sebagainya) dan fisik hartanya masih ada, maka dikembalikan kepada pemilik harta atau barang tersebut disertai dengan permintaan maaf atas pengambilan hak atas harta yang telah dilakukan.
(2)    Jika harta tersebut sudah tidak ada fisik barangnya, karena mungkin telah habis dikonsumsi dan pemilik barangnya tidak lagi diketahui keberadaannya, maka yang bisa dilakukan hanyalah bertaubat dengan taubatan nasuha.
(3)    Jika harta tersebut masih ada fisik barangnya, sementara pihak yang dirugikan tida kada atau tidak diketemukan, maka 4 pilihan perlakuan terhadap harta haram di atas (walau tetap berdosa) bisa dipilih salah satunya dengan catatan itu adalah perlakuan terakhir terhadap harta tersebut disertai dengan taubatan nasuha.
(4)   Jika sistem islam telah tegak, maka harta atau barang yang diperoleh dengan cara yang tidak sah tersebut disita oleh Negara atau diserahkan ke baitul mal kaum muslimin sementara pelakunya tetap dikenai hukuman yang setimpal berdasarkan hukum syariah islam.

Ternyata, mempunyai dan memiliki harta yang perolehannya dari cara yang tidak halal, sudahlah berdosa, solusinya pun penuh dilema. Jadi, punya harta haram itu rugi, rugi besar, rugi banget. Lantas untuk apa?

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Harta Haram, Rugi Banget!"

Posting Komentar

Silakan layangkan kritik,saran, cendol de el el