Hujjatul Islam: Syekh Taqiyuddin An-Nabhani, Pendiri Hizbut Tahrir (2)

Hujjatul Islam: 

Syekh Taqiyuddin An-Nabhani, Pendiri Hizbut Tahrir (2)

 

Syekh Taqiyuddin An-Nabhani
Pada tahun 1932, Taqiyuddin An-Nabhani menamatkan kuliahnya di Darul Ulum. Di tahun yang sama, ia menamatkan pula kuliahnya di Al-Azhar Asy-Syarif menurut sistem lama, di mana para mahasiswanya dapat memilih beberapa Syekh Al-Azhar dan menghadiri halaqah-halaqah ilmiah mereka yang di antaranya membahas mengenai bahasa Arab dan ilmu-ilmu syariah seperti fikih, ushul fikih, hadits, tafsir, tauhid dan lain sebagainya.

Pertumbuhan Syekh Taqiyuddin dalam suasana keagamaan yang kental seperti itu mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan kepribadian dan pandangan hidupnya.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, Syekh Taqiyuddin kembali ke Palestina untuk kemudian bekerja di Kementerian Pendidikan Palestina sebagai tenaga pengajar di sebuah sekolah menengah atas negeri di Haifa. Disamping itu, ia juga mengajar di sebuah madrasah Islam di Haifa.

Pada tahun 1940, Syekh Taqiyuddin diangkat sebagai musyawir (pembantu qadhi). Jabatan ini terus diembannya hingga tahun 1945, yakni saat ia dipindah ke Ramallah untuk menjadi qadhi di Mahkamah Ramallah hingga tahun 1948.

Setelah itu, ia pergi meninggalkan Ramallah menuju Syam sebagai akibat jatuhnya wilayah Palestina ke tangan Yahudi. Namun, tak lama kemudian beliau memutuskan untuk kembali ke Palestina atas permintaan salah seorang sahabatnya. Ia kemudian diangkat sebagai qadhi di Mahkamah Syariah Al-Quds pada tahun yang sama.

Terjun ke politik

Pada tahun 1951, Syekh Taqiyuddin berkesempatan mengunjungi kota Amman, Yordania, untuk menyampaikan ceramah-ceramahnya kepada para pelajar madrasah tsanawiyah di Kulliyah Ilmiyah Islamiyah. Hal ini terus berlangsung hingga awal tahun 1953.

Setelah tidak lagi mengisi ceramah di Kulliyah Ilmiyah Islamiyah, Syekh Taqiyuddin mulai aktif di dunia politik. Ketertarikannya terhadap politik sebenarnya sudah berlangsung sejak ia berusia remaja. Di usianya yang masih terbilang belia, Syekh Taqiyuddin sudah memulai aktivitas politiknya karena pengaruh kakeknya, Syekh Yusuf An-Nabhani.

Kiprahnya dalam dunia politik yang paling menonjol adalah ketika ia mendirikan partai politik berasas Islam, Hizbut Tahrir, yang telah dirintisnya antara tahun 1949 hingga 1953. Hizbut Tahrir secara resmi dideklarasikan pada tahun 1953 di Al-Quds (Yerusalem).

source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/02/27/m01z00-hujjatul-islam-syekh-taqiyuddin-annabhani-pendiri-hizbut-tahrir-2

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hujjatul Islam: Syekh Taqiyuddin An-Nabhani, Pendiri Hizbut Tahrir (2)"

Posting Komentar

Silakan layangkan kritik,saran, cendol de el el